1.01.2010

Ramalan Tentang Kedatangan Rasulullah SAW.

Sebelum Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus menjadi Nabi dan Rasul oleh Allah Ta'ala, telah ada ramalan atau berita tentang akan munculnya Nabi Akhir Jaman yang akan membawa keadilan dan kemuliaan bagi orang yang mengikuti agamanya, Ramalan itu datang dari rahib-rahib Yahudi, pendeta-pendeta Nasrani, maupun dari dukun-dukun orang-orang jahiliyah. Orang-orang Yahudi dan Nasrani memperoleh berita itu berdasarkan kitab-kitab suci yang diturunkan kepada mereka dan pemberitahuan nabi-nabi mereka. Sedangkan dukun-dukun jahiliyah mereka mendapatkan informasi dari jin-jin yang mencuri dengar berita-berita dari langit.

Kisah ini adalah kisah seorang raja di Yaman yang bernama Rabi'ah bin Nashr. Dalam tidurnya ia bermimpi bahwa ia melihat sesuatu yang menakutkan. Ia memanggil para dukun, ahli nujum dan penyihir untuk menjelaskan arti mimpinya. Akan tetapi dia tidak mau menceritakan mimpinya, bahkan ia menyuruh mereka menebak mimpinya dan berkata bahwa mimpinya hanya bisa ditafsirkan oleh orang yang dapat menebaknya.

Para dukun, penyihir dan ahli nujum itu menyerah. Mereka berkata bahwa yang bisa melakukan hal itu hanyalah Sathih dan Syiqq dan mengusulkan agar memanggil keduanya. Kemudian Raja mengutus utusannya menemui Sathih dan Syiqq untuk memanggil mereka. Lalu ternyata Sathih yang datang lebih awal.

Raja Rabi'ah bin Nasr berkata kepada Sathih, "Aku bermimpi dengan sesuatu yang menakutkan, coba tebak apa mimpiku itu! Sebab jika tebakanmu tepat, maka tepat pula penjelasanmu akan arti mimpi itu."
Kemudian Sathih menjawab, "Baiklah, engkau bermimpi melihat benda hitam yang keluar dari sebuah tempat yang gelap, kemudian benda itu jatuh ke tanah yang datar, kemudian semua makhluk hidup memakannya."

Raja berkata, "Tebakanmu tepat sekali, wahai Sathih. Sekarang coba jelaskan apa arti mimpi itu!"
Sathih berkata, "Aku bersumpah dengan siang dan malam, bahwa orang-orang Habsy (Habasyah) pasti akan menginjak negeri kalian, dan mereka akan mengusai daerah Abyan hingga Juras."

Rabi'ah bin Nashr berkata, "Demi ayahmu, wahai sathih, sungguh ini akan menyakitkan kita semua. Kapan hal itu terjadi, pada zamanku atau zaman sesudahku?"
Sathih menjawab, "Tidak pada zamanmu, tetapi sesudah zamanmu, sekitar enam puluh tahun atau tujuh puluh tahun yang akan datang."

Raja bertanya lagi, "Apakah daerah-daerah tersebut akan tetap berada di bawah kekuasaan mereka atau tidak?"

Sathih menjawab, "Tidak selama-lamanya, Daerah tersebut hanya berada di bawah kekuasaan mereka selama tujuh puluhan tahun lebih, setelah itu mereka akan dibunuh dan keluar daripadanya dengan lari terbirit-birit."

Rabi'ah bin Nashr bertanya, "Siapa orang yang membunuh dan mengusir mereka?"
Dijawab, "Dia adalah Iram bin Dzi Yazan. Ia mendatangi mereka dari arah Aden dan tidak menyisakan mereka di Yaman."
Rabi'ah bertanya lagi, "Apakah daerah itu akan dikuasainya terus atau tidak."
Sathih berkata, "Tidak selama-lamanya."

Rabi'ah bin Nashr berkata, "Siapa yang menghentikannya?"
Sathih berkata, "Seorang Nabi yang mendapatkan wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi."
Rabi'ah bertanya, "Nabi tersebut berasal dari mana?"
Sathih menjawab, "Dia berasal dari salah seorang dari Bani Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr. Kekuasaan berada dalam genggaman kaumnya hingga akhir zaman."

Rabiah bertanya lagi, "Apakah zaman mempunyai akhir?"
Sathih berkata, "Ya, pada hari itu manusia generasi pertama hingga generasi terakhir dikumpulkan di dalamnya. Pada hari itu, orang-orang yang berbuat baik mendapat kebahagiaan, sedangkan orang-orang jahat mendapatkan kecelakaan."

Rabi'ah bin Nashr bertanya, "Apakah yang engkau katakan ini benar?"
Sathih berkata, "Ya. Demi sinar merah setelah matahari terbenam, demi malam yang gelap gulita, dan demi subuh jika telah menyingsing, sesungguhnya yang aku katakan kepadamu adalah benar."

Setelah itu Syiqq datang. Rabi'ah bin Nashr menyembunyikan ucapan Sathih untuk mengetahui apakah ucapan Syiqq akan sama dengan ucapan Sathih, ataukah berbeda. Syiqq berkata, "Engkau melihat benda hitam yang keluar dari tempat gelap, kemudian benda itu jatuh di antara padang rumput dan anak bukit, lalu ia dimakan oleh semua makhluk hidup."

Rabi'ah mengerti bahwa ucapan Syiqq sama dengan ucapan Sathih, bedanya Sathih mengatakan benda itu jatuh di tanah yang datar, sedangkan Syiqq mengatakan benda itu jatuh di antara padang rumput dan anak bukit. Dia berkata, "Kamu tidak salah, wahai Syiqq. Sekarang coba jelaskan tentang arti mimpi itu?"
Syiqq berkata, "Aku bersumpah dengan malam dan siang, sungguh orang-orang Sudan akan datang ke negeri kalian, mereka pasti memiliki gadis-gadis remaja dan berkuasa di antara Abyan dan Najran."

Rabi'ah bertanya, "Demi ayahmu, wahai Syiqq, sungguh hal itu amat menyakitkan kita. Kapan itu terjadi? Di zamanku atau zaman sesudahku?"
Dijawab, "Tidak terjadi di zamanmu, namun terjadi sesudah zamanmu. Kemudian kalian akan diselamatkan oleh orang besar yang hebat. Orang itu akan menimpakan kehinaan kepada mereka."
Rabiah bertanya, "Siapakah orang besar yang hebat itu?"
Syiqq berkata, "Anak muda yang tidak rendah diri. Ia keluar menemui mereka dari rumah Dzi Yazan, dan tidak menyisakan sedikitpun di antara mereka."

Rabiah bin Nashr bertanya lagi, "Apakah kekuasaannya akan bertahan lama?"
Syiqq menjawab, "Kekuasaannya dihentikan oleh Rasul yang diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan di antara orang-orang beragama dan orang-orang mulia. Kekuasaan berada di dalam genggaman kaumnya hingga hari Pengadilan."

Rabi'ah bin Nashr bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan hari Pengadilan?"
Syiqq berkata, "Hari pengadilan adalah hari dimana para penguasa mendapatkan balasan atas perbuatannya, dan seruan dikumandangkan dari langit. Seruan tersebut terdengar oleh seluruh makhluk hidup dan yang sudah mati. Pada hari itu, manusia dikumpulkan untuk waktu yang telah ditetapkan. Pada hari itu, keberuntungan dan kebaikan menjadi milik orang yang bertaqwa."

Rabi'ah bertanya, "Apakah yang engkau ucapkan ini benar?"
Dijawab oleh Syiqq, "Demi Tuhan langit dan bumi, serta peningkatan dan perendahan (derajat) yang ada di dalamnya, sesungguhnya apa yang aku ucapkan ini adalah benar dan tidak ada kebathilan di dalamnya."

Ucapan Sathih dan Syiqq tersebut sangat membekas di hati Raja Rabi'ah bin Nashr. Ia kemudian menyiapkan anak-anaknya dan keluarganya untuk pergi ke Irak dengan harapan akan membawa kebaikan bagi mereka. Dia mengirimkan mereka kepada raja Persia yang bernama Sabur bin Khurazzad.

Setelah Rabi'ah bin Nashr meninggal dunia dia diganti oleh Hassan bin Tuban. Hari berganti bulan dan tahun, hingga kekuasaan Yaman berada pada Dzu Nuwas hingga peristiwa Ashabul Ukhduud terjadi. Kemudian Yaman diserang oleh Habasyah dan dikuasai oleh Aryath kemudian direbut oleh Abrahah. Kemudian keturunan Abrahah menguasai Yaman hingga Saif bin Dzu Yazin Al-Himyari meminta bantuan kepada Kisra di kerajan Persia untuk merebut Yaman. Setelah itu Yaman berada pada kekuasaan Persia.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah diutus, Kisra (raja) Persia mengirim surat kepada gubernurnya di Yaman, Badzan. Isi suratnya: "Aku mendengar seorang dari suku Quraisy di Makkah mengaku sebagai Nabi, maka temuilah dia dan suruh dia bertaubat. Jika tidak, bawa kepalanya kepadaku."

Kemudian Badzan mengirmkan surat Kisra kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu beliau membalasnya. Dalam surat itu beliau berkata, "Sesungguhnya Allah telah berjanji kepadaku akan mematikan Kisra pada hari ini, di bulan ini." Badzan berkata dalam hatinya, "Jika ia seorang Nabi, maka apa yang dikatakannya pasti akan terjadi." Kemudian Allah Ta'ala mematikan Kisra tepat pada hari yang dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kisra terbunuh ditangan anaknya yang bernama Syirawih.

Ketika Badzan mendengar berita kematian Kisra, ia mengutus utusan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk memberitakan keislaman dirinya dan orang-orangnya. Utusan Badzan berkata, "Siapa yang kami anggap sebagai wali kami wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Kalian menjadi bagian dari kami dan perwalian kalian kepada keluarga kami."
Di antara yang beliau katakan adalah, "Salman adalah bagian dari kami, ahlul bait."

Ibnu Hisyam berkata, "Inilah yang dimaksudkan Sathih dengan ucapannya. 'Nabi suci yang mendapatkan wahyu dari Dzat yang Mahatinggi.' dan ucapan Syiqq, "Tidak. Kerajaannya terhenti dengan kedatangan Rasul yang diutus dengan membawa kebenaran dan kemuliaan di antara orang-orang beragama dan orang-orang mulia. Kerajaan dimiliki kaumnya hingga Hari Pengadilan." Wallahu A'lam. (Diringkas dan dikisahkan dari As-Sirah An-Nabawiyah li Ibni Hisyam pentahqiq Sa'id Muhammad Allahham)[alsofwah.or.id]

Tidak ada komentar: